Sabtu, 07 Juli 2012

MAKALAH PERSALINAN

      Pengertian persalinan
Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta, selaput ketuban keluar dari uterus ibu. Persalinan dianggap normal jika prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah kehamilan 37 minggu) tanpa disertai adanya penyulit (Winknjosastro, 2008, Hlm.37). Helen Varney mengatakan persalinan adalah rangkaian proses yang berakhir dengan pengeluaran hasil konsepsi oleh ibu. Proses ini dimulai dengan kontraksi persalinan sejati, yang ditandai oleh perubahan progresif pada serviks, dan diakhiri dengan kelahiran plasenta (Varney,H, 2007, Hlm. 672). Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan, lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2006, Hlm.100). Tanda-tanda persalinan yaitu rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur, keluar darah lendir yang banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks, terkadang ketuban pecah dengan sendirinya, pada pemeriksaan dalam didapat serviks yang mendatar dan pembukaan jalan sudah ada (Yeyeh, Ai, 2009, Hlm. 9).
Proses dinamik dari persalinan meliputi empat komponen yang saling berkaitan yang mempengaruhi baik mulainya dan kemajuan persalinan. Empat komponen ini adalah passanger (janin), passage (pelvis ibu), power (kontraksi uterus), dan Psikis (status emosi ibu). Bila persalinan dimulai, interaksi antara passanger, passage, power, dan psikis harus sinkron untuk terjadinya kelahiran pervaginam spontan (Wlash, linda, 2007, Hlm.300).
       Pengertian  nyeri
Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.

 
      Pengertian  nyeri persalinan
Rasa  nyeri pada persalinan adalah manifestasi dari adanya kontraksi (pemendekan) otot rahim. nah kontraksi rahim inilah yang menimbulkan rasa sakit pada pinggang, daerah perut dan dapat menjalar ke arah paha.
kontraksi ini menyebabkan adanya pembukaan mulut rahim. dengan adanya pembukaan mulut rahim maka akan terjadi persalinan.
rasa nyeri yang ditimbulkan oleh kontraksi rahim ini dapat dikurangi antara lain dengan cara :
- memberi rasa nyaman pada ibu bersalin
- menggunakan teknik pernafasan tertentu
- menggunakan anastesi (pembiusan)
- menggunakan obat-obatan sedativa (penenang)

         Definisi Kecemasan
Cemas adalah suatu emosi yang dihubungkan dengan kehamilan, cemas mungkin emosi positif sebagai perlindungan menghadapi kecemasan, yang bisa menjadi masalah apabila berlebihan (Salmah, 2006, Hlm.82). Kecemasan merupakan respon individu terhadap suatu keadaan yang tidak menyenangkan dan dialami oleh semua makhluk hidup dalam sehari-hari ataupun respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan di komunikasikan secara interpersonal seperti kebingungan, kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya (Suliswati, 2005, Hlm.108). Menurut Stuart (2006, Hlm.144) definisi kecemasan merupakan kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar, berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek spesifik kecemasan dialami secara subyektif dan dikomunikasikan secara interpersonal dan berada dalam suatu rentang.
        Macam Atau Diagnosa Kecemasan
1) Kecemasan Akut
Definisi : Pada keadaan ini perasaan sakit berat dan takut bisa berjalan beberapa menit atau beberapa jam. Mungkin penderita sadar, sebelumnya punya pengalaman emosi ( biasa terdapat pada ibu yang akan bersalin ).
Gejala – gejala :
a) Perasaan takut.
b) Mudah berdebar – debar.
c) Hyperventilasi.
d) Perasaan payah ( lemah, lesu ).
e) Tachy cardi.
f) Hyperhyrosis.
g) Pernafasan kasar.
h) Hypertensi sifatnya sistolik.
i) Diarrhee.
j) Polyuri ( sering kencing ).
k) Perasaan tersumbat ditenggorokan dan sebagainya.
2) Kecemasan Kronis
Definisi : Kecemasan timbul untuk sebab yang tidak diketahui ( tidak disadari ). Mungkin karena penderita tidak tahu sebab maka justru kecemasannya akan bertambah, sehingga fisik makin bertambah pula.
Gejala – gejala :
a) Sakit kepala.
b) Keluhan – keluhan gastro intestinal.
c) Kelelahan.
d) Pada pemeriksaan fisik lengkap tidak ditemukan kelainan apa – apa.
        Tingkat kecemasan
Peplau membagi tingkat kecemasan ada empat (Stuart, 2001) yaitu:
     Kecemasan ringan yang berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan ini menyebabkan individu menjadi waspada dan meningkatkan lapang persepsinya. Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta kreativitas.
b.      Kecemasan sedang yang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting dan mengesampingkan hal yang lain. Kecemasan ini mempersempit lapang persepsi individu. Dengan demikian individu mengalami tindak pehatian yang selektif namun dapat berfokus pada lebih banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
c.        Kecemasan berat yang sangat mengurangi lapang persepsi individu. Individu cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta tidak berfikir tentang hal lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
d.       Tingkat panik dari kecemasan berhubungan dengan terpengarah, ketakutan dan teror. Hal yang rinci terpecah dari proporsinya. Karena mengalami kehilangan kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini sejalan dengan kehidupan, jika berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.
            Ø      Ciri-Ciri Kecemasan
Menurut Brenda Goodner ciri-ciri kecemasan adalah :
1. Kecemasan Ringan
- Meningkatkan kesadaran
- Terangsang untuk melakukan tindakan
- Termotivasi secara positif
- Sedikit mengalami peningkatan tanda-tanda vital
2. Kecemasan Sedang
- Lebih tegang
- Menurunnya konsentrasi dan persepsi
- Sadar, tapi fokusnya sempit
- Sedikit mengalami tanda-tanda vital
- Gejala-gejala fisik tidak berkembang : sakit kepala, sering berkemih, mual, palpitasi, letih.
3. Kecemasan Berat
- Persepsi menjadi terganggu
- Perasaan tentang terancam atau takut meningkat
- Komunikasi menjadi terganggu
- Mengalami peningkatan tanda-tanda vital lebih dramatis, diare, palpitasi, nyeri dada, muntah
4. Panik
- Perasaan terancam
- Gangguan realitas
- Tidak mudah untuk berkomunikasi
- Kombinasi dari gejala-gejala fisik yang disebutkan diatas dengan peningkatan tanda-tanda vital akan lebih awal dari tanda panik, tetapi akan lebih buruk jika intervensi yang dilakukan gagal.
- Dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
 Masa  kehamilan dan kecemasan
Kehamilan dapat dibagi menjadi 3 trimester yaitu trimester 1, trimester 2, dan trimester 3, pada tiap trimester tersebut wanita hamil akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Perubahan fisik tersebut dapat menimbulkan kecemasan. Kecemasan terhadap perubahan fisik pada trimester 1 yaitu mual-mual, muntah-muntah, pusing, cepat lelah dan capek. Sedangkan perubahan psikologisnya adalah wanita hamil mudah marah, mudah tersinggung, dan sebagainya pada trimester 1 wanita hamil lebih cemas dan takut akan keguguran. Hal ini dikarenakan pada fase ini perkembangan bayi belum terlihat jelas dan lemah. Pada trimester ke-2 ibu hamil biasanya sudah bisa menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada trimester 1. Ibu hamil pada trimester ke-2 mulai merasakan adanya gerakan janin di dalam perutnya. Apabila wanita hamil tidak dapat merasakan gerakan-gerakan bayi dalam kandungannya maka akan muncul kecemasana. Kecemasan ini berasal dari ketakutan ibu hamil akan berkembangnya janin yang ada di dalam perutnya. Apakah bayi yang ada di dalam kandungannya masih hidup atau mengalami suatu gangguan. Pada wajah ibu hamil juga akan muncul bercak kecoklatan pada kulit hidung dan pipi. Wanita hamil yang selalu memperhatikan kecantikan wajahnya akan merasa cemas dengan kecantikannya. Pada trimester ke-3 kecemasan akan kembali muncul ketika akan mendekati proses persalinan. Ibu hamul akan ditakuti oleh kesakitan yang luar biasa ketika akan melahirkan bahkan resiko kematian. Hal ini disebabkan wanita hamil sering mendengarkan cerita-cerita, baik dari tetangga mabupun ibu-ibu yang pernah melahirkan. Apakah ia bisa melakukan proses mengejan dengan baik agar proses persalinan berlangsung dengan lancar. Jika wanita hamil lemah, maka akan mempersulit proses melahirkan nanti.

Ø    Masa persalinan dan kecemasan
Tahap Persalinan
Pembagian tahap persalinan dibagi dalam 4 kala yaitu :
1) KALA I
Kala I adalah kala pembukaan serviks yang berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap ( 10 cm ) pada primigravida kala I berlangsung kira – kira 13 jam, sedangkan pada multigravida kira – kira 7 jam. Proses pembukaan serviks sebagai his dibagi dalam 2 fase :
a) Fase Laten, berlangsung selama 8 jam. Pembukaan sangat lambat sampai mencapai ukuran diameter 3 cm.
b) Fase Aktif, dibagi dalam 3 fase lagi, yaitu :
(1) Fase Akselerasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi 4 cm.
(2) Fase Dilatasi, yaitu dalam waktu 2 jam pembukaan sangat cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm.
(3) Fase Deselerasi, yaitu pembukaan menjadi lamban kembali dalam waktu 2 jam pembukaan 9 cm menjadi lengkap.
Fase – fase tersebut dijumpai pada primi maupun multigravida, tapi pada multigravida fase laten, fase aktif dan fase deselerasi menjadi lebih pendek (Arif Mansjoer, 2000 : 292).
2) KALA II
Kala II adalah kala pengeluaran janin dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm ) sampai bayi lahir, proses ini biasanya berlangsung 1,5 – 2 jam pada primigravida dan 0,5 – 1 jam pada multigravida (Rustam Mochtar, 2000 : 95).
Kala II adalah dimulainya dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi lahir. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi ( Gulardi Hanifa Wiknjosastro,2000 ; 100 ).
Gejala utama Kala II :
a) His semakin, dengan internal 2 – 3 menit dengan durasi 50 – 100 detik.
b) Menjelang Kala II ketuban pecah ditandai dengan pengeluaran cairan secara mendadak.
c) Ketuban pecah pada pembukaan mendekati lengkap dan di ikuti keinginan mengejan karena tertekannya pleksus franken houser.
d) Kedua kekuatan, his dan mengejan lebih mendorong kepala bayi sehingga terjadi :
(1) Kepala membuka pintu.
(2) Sub occiput sebagai hipomoglion berturut – turut lahirubun – ubun besar, dahi, hidung, muka dan seluruh kepala janin.
e) Kepala lahir seluruhnya dan diikuti oleh putaran paksi luar, yaitu penyesuaian kepala pada punggung.
f) Setelah putaran paksi luar berlangsung, maka persalinan bayi ditolong dengan jalan :
(1) Kepala dipegang pada os occiput dan dibawahi dagu, ditarik curam ke bawah untuk melahirkan bahu depan dan curam keatas untuk melahirkan bahu belakang.
(2) Setelah kedua bahu lahir, ketiak dikait untuk melahirkan sisa badan bayi.
(3) Bayi lahir diikuti oleh sisa air ketuban.

3) KALA III
Kala III adalah Kala Uri yaitu dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak boleh lebih dari 30 menit. Lepasnya plasenta sudah dapat diperkirakan tanda – tanda dibawah ini :
a. Uterus menjadi bundar.
b. Uterus terdorong ke atas karena plasenta dilepas ke segmen bawah rahim.
c. Tali pusat bertambah panjang.
d. Terjadi pendarahan kira – kira 100 – 200 cc.
4) KALA IV
Kala IV adalah dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama post partum. Masa post partum merupakan saat paling kritis untuk mencegah kematian ibu. Pemantauan ibu setiap15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta dan setiap30 menit pada jam kedua setelah persalinan. Jika kondisi ibu tidak stabil, maka ibu harus dipantau lebih sering.
Pengawasan pada Kala IV :
a. Periksa fundus :
1) Setiap 15 menit pada jam pertama setelah persalinan.
3) Masase fundus jika perlu untuk menimbulkan kontraksi.
b. Periksa kelengkapan plasenta untuk memastikan tidak ada bagian – bagian yang tersisa dalam uterus.
c. Periksa luka robekan pada perineum dan vagina yang membutuhkan jahitan.
d. Memperkirakan pengeluaran darah.
e. Periksa apakah ada darah keluar langsung pada saat memeriksa uterus, jika uterus berkontraksi kuat, lokhia kemungkinan tidak lebih dari menstruasi.
f. Periksa untuk memastikan kandung kemih tidak penuh.
g. Periksa kondisi ibu setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua setelah persalinan, jika kondisi ibu tidak stabil pantau ibu lebih sering.
h. Periksa kondisi bayi baru lahir :
1) Apakah bayi bernafas dengan baik.
2) Apakah bayi kering dan hangat.
3) Apakah bayi siap disusui atau pemberian ASI memuaskan.
( Gulardi Hanifa Wiknjosastro, 2000 ; 119 )
Ø    Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Persalinan
1. Power
Power adalah kekuatan – kekuatan yang ada pada ibu seperti kekuatan His dan mengejan yang dapat menyebabkan serviks membuka dan mendorong janin keluar. His yang normal mulai dari salah satu sudut di fundus uteri yang kemudian menjalar merata semetris ke seluruh korpus uteri dengan adanya dominasi kekuatan pada fundus uteri dimana lapisan otot uterus paling dominan, kemudian mengadakan relaksasi secara merata dan menyeluruh, hingga tekanan dalam ruang amnion, kembali ke asalnya. (Sarwono, 2006 : 121).
2. Passage
Passage adalah keadaan jalan lahir, jalan lahir mempunyai kedudukan penting dalam proses persalinan untuk mencapai kelahiran bayi. Dengan demikian evaluasi jalan lahir merupakan salah satu faktor yang menentukan apakah persalinan dapat berlangsung pervaginam atau sectio sesarta. Pada jalan lahir tulang dengan panggul ukuran normal apapun jenis pokoknya kelahiran pervaginam janin dengan berat badan yang normal tidak akan mengalami kesukaran, akan tetapi karena pengaruh gizi, lingkungan atu hal – hal lain. Ukuran panggul dapat menjadi lebih kecil daripada standar normal, sehingga biasa terjadi kesulitan dalam persalinan pervaginam (Wiknjosastro, Hanifa 2001 : 637 – 639).
Pada jalan lahir lunak yang berperan pada persalinan adalah segmen bawah rahim, servik uteri dan vagina. Disamping itu otot - otot jaringan ikat dan ligamen yang menyokong alat – alat urogenital juga sangat berperan pada persalinan ( Rustam Mochtar, 2000 : 82 ).
3. Passanger
Passanger adalah janinnya sendiri, bagian yang paling besar dan keras pada janin adalah janin, posisi dan besar kepala dapat mempengaruhi jalan persalinan, kepala janin ini pula yang paling banyak mengalami cedera pada persalinan, sehingga dapat membahayakan hidup dan kehidupan janin kelak, hidup sempurna, cacat atau akhirnya meninggal. Biasanya apabila kepala janin sudah lahir, maka bagian – bagian lain dengan mudah menyusul kemudian ( Rustam Mochtar, 2000 : 65 ).
4. Psikis
Psikis adalah kejiwaan Ibu, ada keterkaitan antar faktor – faktor somatic (jasmaniah) dengan faktor – faktor psikis, dengan demikian segenap perkembangan emosional dimasa dari wanita yang bersangkutan ikut berperan dalam kegiatan mempengaruhi mudah sukarnya proses kelahiran bayinya. (Rustam Mochtar, 2000).
Pada proses melahirkan bayi, pengaruh – pengaruh psikis bisa menghambat dan memperlambat proses kelahiran, atau bisa juga mempercepat kelahiran. Maka fungsi biologis dari reproduksi itu amat dipengaruhi oleh kehidupan psikis dan kehidupan emosional wanita yang bersangkutan. Untuk memperjelas proses periode terakhir masa kehamilan yaitu melahirkan sebagai berikut :
Fenomena fisiologis pada kelahiran bayi yang normal ditandai 3 tahap :
a. Proses pelebaran atau mengembang.
b. Proses melontarkan atau melahirkan.
c. Proses pot natal.
Proses mengembang atau melebarnya saluran vagina dan ujung uterus pada tahap pertama berlangsung beberapa hari, disertai kontraksi – kontraksi lemah dari otot uterus, disertai rasa sakit sedikit – sedikit yang berlangsung berkepanjangan. Selama fase pelontaran bayi keluar, kontraksi – kontraksi pada uterus berlangsung terus. Hal ini diakibatkan oleh karena otot – otot pada ujung uterus yang bergerak memanjang (longitudinal) disertai otot – otot yang bergerak secara sirkuler atau melingkar berbatasan dengannya, kontraksi sirkuler tersebut bergerak semakin keatas, diikuti kesakitan – kesakitan dan rasa nyeri yang semakin menghebat. Bagian bawah uterus dan vagina kini menjadi sebuah kantong yang lembut dan longgar melalui mana kepala bayi akan muncul keluar melalui vagina. Keluarnya bayi ini sebagian disebabkan oleh kekuatan – kekuatan kontraksi otot – otot dan sebagian lagi oleh tekanan – tekanan dari perut.
Fungsi – fungsi otot uterus, kontraksi – kontraksi dan pelontaran bayi itu sangat bergantung pada rangsangan – ransangan saraf dan rangsangan saraf ini bersumber pada satu tiga sistem yaitu :
a. Sistem saraf simpetetis yang menghambat pelontaran janin.
b. Sistem saraf para simpatis yang melancarkan pelontaran janin.
c. Saraf lokal dari ganglia yang ada dalam otot – otot uterus dan ikut membantu kontraksi – kontraksi pelontaran.
Proses kelahiran bayi normal bergantung pada interaksi harmonis dari macam – macam otot dan rangsangan saraf nadi, ini sangat bergantung pada pengaruh – pengaruh ekstern terutama pengaruh emosi wanita yang akan melahirkan, organ dan onderdil – onderdil dari fungsi reproduksi bisa terhambat atau gagal beroperasi disebabkan oleh gangguan – gangguan psikogen sebab bisa mengganggu proses rangsangan – rangsangan saraf yang menstimulin bekerjanya organ tadi. Kelancaran sangat tergantung pada interaksi yang harmonis dari rangsangan – rangsangan saraf – saraf yang antogonistis atau berfungsi secara bertentangan itu. Dampak kerjasamanya diatur secara otomatis yaitu proses yang terlampau cepat atau terlalu terburu – buru. Secara otomatis akan mendapat perlawanan dari rangsangan – rangsangan saraf yang inhibitif menghambat. Sebaliknya jika proses terlalu lambat, peristiwa ini secara otomatis akan didorong oleh rangsangan – rangsangan saraf yang bertugas untuk mempercepat atau memacunya. Terdapat anogonisme diantara tendens – tendens psikis dan impuls – impuls, emosional, sistem saraf yang berotonomi yang memberikan petunjuk, pengarahan pada proses fisiologi dari kelahiran dan kehidupan psikis yang tidak disadari, kedua – duanya sangat bergantung pada kemauan sadar. Fungsi sistem saraf yang berotonomi bisa diubah oleh obat – obatan sedang kehidupan psikis yang tidak disadari atau dibawah sadar, bisa dipengaruhi sedikit atau banyak oleh kesadaran wanita tadi. Maka diantara kehidupan kesadaran dan kehidupan ketidak sadaran itu terjadi baik interelasi langsung maupun interelasi tidak langsung. ( Rustam Mochtar, 2000 : 101 ).
5. Penolong
Penolong disini dokter, bidan yang mengawasi wanita inpartu sebaik – baiknya dan melihat apakah semua persiapan untuk persalinan sudah dilakukan, memberikan obat atau melakukan tindakan hanya apabila ada indikasi untuk ibu maupun janin. ( Arif Mansjoer, 2000 : 294 ).
Ø     Indicator Gejala Kecemasan
Penderita yang mengalami kecemasan biasanya memiliki gejala-gejala yang khas dan terbagi dalam beberapa fase, yaitu :
- Fase 1
Keadan fisik sebagaimana pada fase reaksi peringatan, maka tubuh mempersiapkan diri untuk fight (berjuang), atau flight (lari secepat-cepatnya). Pada fase ini tubuh merasakan tidak enak sebagai akibat dari peningkatan sekresi hormon adrenalin dan non adrenalin.
Oleh karena itu, maka gejala adanya kecemasan dapat berupa rasa tegang di otot dan kelelahan, terutama di otot-otot dada, leher dan punggung. Dalam persiapannya untuk berjuang, menyebabkan otot akan menjadi lebih kaku dan akibatnya akan menimbulkan nyeri dan spasme di otot dada, leher dan punggung. Ketegangan dari kelompok agonis dan antagonis akan menimbulkan tremor dan gemetar yang dengan mudah dapat dilihat pada jari-jari tangan (Wilkie, 1985). Pada fase ini kecemasan merupakan mekanisme peningkatan dari sistem syaraf yang mengingatkan kita bahwa system syaraf fungsinya mulai gagal mengolah informasi yang ada secara benar (Asdie, 1988).
- Fase 2
Disamping gejala klinis seperti pada fase satu, seperti gelisah, ketegangan otot, gangguan tidur dan keluhan perut, penderita juga mulai tidak bisa mengontrol emosinya dan tidak ada motifasi diri (Wilkie, 1985).
Labilitas emosi dapat bermanifestasi mudah menangis tanpa sebab, yang beberapa saat kemudian menjadi tertawa. Mudah menangis yang berkaitan dengan stres mudah diketahui. Akan tetapi kadang-kadang dari cara tertawa yang agak keras dapat menunjukkan tanda adanya gangguan kecemasan fase dua (Asdie, 1988). Kehilangan motivasi diri bisa terlihat pada keadaan seperti seseorang yang menjatuhkan barang ke tanah, kemudian ia berdiam diri saja beberapa lama dengan hanya melihat barang yang jatuh tanpa berbuat sesuatu (Asdie, 1988).
- Fase 3
Keadaan kecemasan fase satu dan dua yang tidak teratasi sedangkan stresor tetap saja berlanjut, penderita akan jatuh kedalam kecemasan fase tiga. Berbeda dengan gejala-gejala yang terlihat pada fase satu dan dua yang mudah di identifikasi kaitannya dengan stres, gejala kecemasan pada fase tiga umumnya berupa perubahan dalam tingkah laku dan umumnya tidak mudah terlihat kaitannya dengan stres. Pada fase tiga ini dapat terlihat gejala seperti : intoleransi dengan rangsang sensoris, kehilangan kemampuan toleransi terhadap sesuatu yang sebelumnya telah mampu ia tolerir, gangguan reaksi terhadap sesuatu yang sepintas terlihat sebagai gangguan kepribadian (Asdie, 1988).

0 komentar:

Poskan Komentar